27 Maret 2023

 

Koneksi Antar Materi 2.3 : COACHING

Oleh : Tri Maryono

 

A.      Pengertian Coaching dan Relevasinya dengan Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Coaching adalah suatu proses di mana seorang pelatih (coach) bekerja dengan klien untuk membantu mereka mencapai tujuan dan potensi yang lebih besar. Coaching melibatkan dialog antara pelatih dan klien, di mana pelatih membantu klien untuk mengeksplorasi dan memahami diri mereka sendiri, mengidentifikasi tujuan dan ambisi, mengembangkan rencana tindakan yang konkrit, dan mengatasi hambatan yang mungkin menghalangi mereka untuk mencapai tujuan mereka.

Relevansi antara coaching dan pemikiran Ki Hajar Dewantara dapat ditemukan dalam pandangannya tentang pendidikan. Ki Hajar Dewantara adalah seorang tokoh pendidikan Indonesia yang memperjuangkan pendidikan yang berbasis pada potensi dan keunikan individu, yang dikenal sebagai pendekatan "jiwa kreatif" atau "ing ngarsa sung tuladha". Pendekatan ini bertujuan untuk membebaskan individu dari pembelajaran yang monoton dan membosankan, dan memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk mengembangkan potensi dan kreativitas mereka.

Sama seperti pendekatan Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan, coaching juga berfokus pada pengembangan individu secara holistik dan memperhatikan keunikan dan potensi individu. Coaching membantu klien untuk mengeksplorasi dan memahami diri mereka sendiri, dan memperkuat kemampuan mereka untuk mencapai tujuan dan potensi yang lebih besar.

Selain itu, coaching juga mencakup pemberian umpan balik dan dukungan moral yang positif dari pelatih kepada klien mereka, yang serupa dengan konsep "didik dari hati" yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara. Pendekatan ini memperhatikan aspek emosional dan psikologis dari individu, dan membantu mereka untuk mencapai potensi penuh mereka dengan cara yang lebih humanis dan empatik.

Dalam kesimpulannya, relevansi antara coaching dan pemikiran Ki Hajar Dewantara dapat ditemukan dalam fokus mereka pada pengembangan individu secara holistik, dan perhatian mereka pada keunikan dan potensi individu. Coaching juga mencakup konsep pemberian umpan balik dan dukungan moral yang positif, yang serupa dengan pendekatan "didik dari hati" Ki Hajar Dewantara.

Coaching merupakan proses kolaborasi yang fokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dari sang coachee.

Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada siswa. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif, Dalam coaching ada proses menuntun yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid sebagai coachee untuk menenemukan kekuatan kodrat dan potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan alam dan zaman

Hal ini sejalan dengan pemikiran sang Maestro Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara (KHD) dimana menurutnya pendidikan itu adalah ada proses menuntun yang dilakukan guru untuk mengubah prilaku murid sehingga dapat hidup sesuai kodratnya baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.

B.      Peran Guru dalam Coaching

Guru dapat memainkan peran yang sangat penting dalam coaching, terutama dalam konteks pendidikan. Sebagai pelatih, guru dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan pendidikan mereka, memperkuat kemampuan mereka untuk belajar, dan membangun rasa percaya diri dan motivasi mereka. Berikut adalah beberapa peran penting yang dapat dimainkan guru dalam coaching:

Mendorong siswa untuk mencapai tujuan: Guru dapat membantu siswa untuk mengidentifikasi dan merumuskan tujuan belajar mereka, serta mengembangkan rencana tindakan untuk mencapainya. Guru juga dapat memberikan umpan balik dan dukungan moral yang positif untuk membantu siswa tetap termotivasi dan fokus pada tujuan mereka.

Menjadi pendengar aktif: Guru dapat menjadi pendengar yang aktif untuk siswa mereka, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan perasaan, pemikiran, dan ide-ide mereka. Hal ini membantu siswa merasa didengar dan diterima, dan memperkuat hubungan antara guru dan siswa.

Membantu siswa mengeksplorasi dan memahami diri mereka sendiri: Guru dapat membantu siswa untuk mengeksplorasi dan memahami kekuatan, kelemahan, minat, dan nilai mereka. Hal ini membantu siswa membangun rasa percaya diri dan motivasi, serta membantu mereka dalam mengambil keputusan tentang karir dan kehidupan.

Memberikan umpan balik yang konstruktif: Guru dapat memberikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu siswa memperbaiki keterampilan dan kemampuan mereka. Umpan balik yang efektif harus jelas, spesifik, dan disampaikan dengan cara yang positif dan memotivasi.

Membangun hubungan yang positif dan mendukung: Guru dapat membangun hubungan yang positif dan mendukung dengan siswa mereka, memperkuat rasa percaya diri dan motivasi mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pengakuan, dukungan moral, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan minat dan keahlian siswa.

Dalam kesimpulannya, guru dapat memainkan peran yang sangat penting dalam coaching siswa mereka. Dengan membantu siswa untuk mencapai tujuan mereka, memperkuat kemampuan mereka untuk belajar, dan membangun rasa percaya diri dan motivasi mereka, guru dapat membantu siswa menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Peran Guru sebagai coaching hendaknya tidak mengajarkan atau menginstruksikan sesuatu, tidak juga memberikan saran atau solusi secara langsung. Guru membantu peserta untuk belajar dan bertumbuh. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengajukan pertanyaan. Tentu saja bukan sembarang pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang dapat memicu kesadaran diri dan memprovokasi tindakan kreatif, menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya untuk memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, dengan demikian diharapkan guru dapat menuntun peserta didik untuk menemukan solusi di setiap permasalahan dan meraih prestasi terbaik dengan kekuatan yang dimilikinya.

C.      Konektivitas Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional.

Coaching dapat membantu mendukung pembelajaran berdiferensiasi dengan mengidentifikasi kebutuhan dan kekuatan individu siswa. Melalui coaching, guru dapat memperhatikan perbedaan dalam gaya belajar dan kebutuhan siswa serta memberikan strategi dan dukungan yang sesuai untuk membantu siswa mencapai potensi mereka. Coaching juga dapat membantu guru untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan memastikan bahwa setiap siswa merasa didengar dan diterima.

Konektivitas Coaching dengan Sosial Emosional:

Coaching juga dapat membantu siswa untuk memperkuat keterampilan sosial emosional mereka. Melalui coaching, guru dapat membantu siswa untuk mengembangkan kepercayaan diri, mengelola emosi, dan membangun hubungan sosial yang sehat. Coaching juga dapat membantu siswa untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka dalam hal sosial emosional dan memberikan strategi dan dukungan yang sesuai untuk membantu mereka mencapai keseimbangan sosial emosional yang sehat.

Dalam keseluruhan, coaching dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran mereka dengan mengidentifikasi kebutuhan dan kekuatan individu siswa serta membantu mereka untuk memperkuat keterampilan sosial emosional mereka. Hal ini memungkinkan siswa untuk belajar dengan lebih efektif dan mencapai potensi mereka dengan lebih baik, sambil juga membangun keterampilan sosial emosional yang penting untuk sukses di dalam dan di luar kelas.

 

Sistem Among yang dianut Ki Hajar Dewantara menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini "KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik".

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.